Posted by: widasulistya | April 27, 2012

Solusi Problem Remaja

Bagi seorang remaja, sekolah adalah dunia yang penuh kesempatan penuh makna pembelajaran untuk bekal hidup.sekolah adalah kebutuhan yang sifatnya formal dan menjadi tuntutan usiaperkembangan remaja. Dapat menikmati suka duka bersekolah dan memperoleh ilmu dalam prosesnya bagi remaja adalah sebuah keberuntungan. Hal ini disebabkan tidak semua remaja berkesempatan bersekolah baik karena tidak mampu secara ekonomi ataupun tidak mampu karena sebab lain. Sekolah memberikan keharusan bagi siswa untuk mencapai suatu standar kemampuan yang bersifat akademis dan non akademis. Uuntuk mencapainya seorang sisiwa remaja harus mengikuti proses pembelajaran secara disiplin dan penuh perhatian dalam arti melibatkan diri secara fisik dan psikis dalam proses pembelajaran.

Keterlibatan secara fisik dan psikis bagi seorang remaja pelajar dalam pembelajaran seringkali adalah hal yang sulit terwujud karena siswa tersebut mengalami beberapa masalah yang menghambat proses belajar. Tak heran kalau banyak siswa yang nilai akademisnya kurang baik, nilai non akademisnya dibawah standar, karena ada penghambat proses keberhasilan belajar yang mengungkung pribadi remaja tersebuit. Agar remaja pelajar dapat membebaskan diri dari lingkungan masalah penghambat proses belajar, maka perlu terlebih dahulu mengenai jenis persoalan yang banyak dialami oleh remaja sebelum mengupayakan strategi pemecahannya.

Berdasar dari curah pendapat lewat seorang murid, diperoleh sebuah pengakuan tentang ragam masalah yang menjadi pengganggu belajar mereka. Secara umum masalah tersebut terdiri dari :

1.Cinta Remaja dan cinta

Cinta Remaja dan cinta adalah dua hal yang tak terpisahkan. Diawali dari masa puber yang ditandai dengan perubahan fisik seorang remaja belajar untuk mengenal dan berelasi dengan lawan jenis dalam konteks hubungan yang melebihi pertemanan.perilaku yang muncul sebagai ekspresi dari cinta ini dapat kita lihat sebagai bentuk emosi – emosi yang sangant intens atau kuat. Perasaan yang tenang mendadak menjadi gelisah, sangat riang, murung, cemburu, sedih, bersemangat, marah dan berbagai emosi yang muncul akibat perasaan cinta.aktifitas emosional yang merupakan bagian dari otak kanan ini mendominasi aktifitas perilaku dan membuyarkan keaktifan otak kognitif pada belahan otak kiri. Mungkin kita menjadi mafhum ketika kita melihat remaja yang jatuh cinta itu kemudian menjadi uring – uringan, kurang konsentrasi belajar, mogok sekolah, melamun, atau cuek dengan pelajaran dan mengikuti hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban siswa atau sekedar mengisi absent kehadiran karena otak limbic/emosi sedang mendominasi otak nalar atau rasional.. Meski demikian, cinta adalah hal yang normal muncul sebagai tanda kedewasaan.Untuk itu sebagai langkah yang bijaksana adalah perlu mengarahkan siswa untuk memiliki sikap yang tepat dalam menghadapi sindroma cinta. Siswa perlu diarahkan untuk menerima cinta dengan penuh kesadaran bahwa untuk menjalani kehidupan berpasangan dalam cinta harus mengikuti koridor aturan agama bukan budaya. Sebab ketika mengikuti arus budaya maka cinta remaja seolah adalah gaya hidup yang asyik, wajar bahkan dianjurkan. Akan tetapi agama Islam membimbing remaja untuk menghargai cinta dan memperoleh cinta dengan jalan mulia. Adapun cinta remaja adalah fitrah yang membutuhkan pengendalian diri atau nafsu sampai pada bata ketika remaja benar – benar telah dewasa dan siap membangun cinta yang bernuansa ibadah karena Allah SWT yaitu pernikahan.

2. Kasih sayang orang tua dan keluarga

Hidup tanpa kasih sayang tentu rasanya sengsara dan sedih. Orang yang sedih sangat mungkin kehilangan gairah atau motivasi untuk belajar, meski pada beberapa orang mencoba melupakan kesedihan dengan menyibukan diri dengan bekerja atau mengejar prestasi sebagai pengalihan rasa sedih. Bila seorang siswa remaja meiliki masalah dengan kasih saying keluarga kita dapat mengenali dari sikapnya yang kurang bersahabat, cenderung kasar, nakal, atau justru terlihat minder dan kuper, toubel maker, egois, cari perhatian, melanggar aturan dan sebagainya. Semua itu merupakan ungkapan ketidak bahagiaannya atas kurang terpenuhinya kebutuhan siswa tersebut dari kasih sayang terutama orang tua. Hal itu terjadi bisa jadi karena orang tua sangat sibuk bekerja, kurang paham dalam tanggung jawab, pola asuh, atau perpecahan keluarga. Apa yang dialami siswa dirumah kemudian terbawa kesekolah dalam wujud perilaku yang kurang punya motivasi belajar, atau muncul dalam bentuk seperti tersebut diatas. Bagi siswa remaja dengan masalah seperti itu, tentu butuh bantuan agar dia bisa terhindar dari bertingkah laku yang merugikan dan tahu bagimana harus bersikap dengan cara memberinya bimbingan dan pendekatan penuh kasih sayang agar siswa belajar mengenal tentang sikap kasih sayang sekaligus tebuka pikirannya untuk melakukan pengendalian perilaku agar menjadi siswa dan pribadi yang berhasil dalam kehidupan. Lebih utama lagi ketika situasi keluarga dapat teratasi dan mengalami perbaikan baik sebagai kerjasama sekolah dengan keluarga siswa ataupun proaktif siswa secara pribadi dalam mengatasi masalahnya.
3. Guru

Guru tidak selamanya menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan, disebabkan guru adalah pribadi yang unik sebagaimana siswa, maka pendekatan dan sikap guru sangat mungkin suatu saat menimbulkan pertentangan atau hambatan dalam proses belajar. Contoh siswa yang merasa bosan dan kurang diperhatikan karena tidak cantik atau tampan, siswa remaja yang bermasalah namun diabaikan saja, siswa yang kurang bisa memahami pelajaran akibat cara penyampaian guru, ketersinggungan siswa pada guru, ketidak simpatikan guru dan lain – lain. Hal seperti itu, dapat diantisipasi dengan cara guru sering mengupayakan umpan balik siswa dan mengevaluasi performancenya dari berbagai sumber agar dapat melakukan perbaikan diri dan dapat menjadi pendidik yang sukses.

4.Teman

Bagi remaja teman adalah sangat penting dalam menemukan kepercayaan diri dan penghargaan diri. Sikap teman dan pandangan teman adalah referensi remaja dalam memahami dirinya, seringkali antar siswa remaja memunculkan geng agar dirnya nampak kuat dan diakui lingkungan yang dibangun berdasar kesamaan sifat atau ciri. Dalam hal kreatifitas dan pergaulan hal ini seringkali memunculkan masalaha baru yaitu perilaku pengucilan pada remaja yang berbeda atau lain geng.pada beberapa kejadian sering kemudian terjadi pertikaian antar geng, ejek – mengejek dengan teman diluar geng yang dapat memunculkan remaja tertentu sebagai korban. Akibat yang muncul ialah hilangnya kepercayaan diri korban dan rasa sakit hati yang sangat mengganggu pada konsentrasi belajar, semangat sekolah , dan prestasi. Lebih dari itu sikorban mungkin kemudian menjadi dendam dan melakukan tindakan yang dapat merugikan dirinya seperti mabuk, drugs, mogok sekolah ,depresi, bunuh diri, atau justru merugikan orang lain seperti melukai , mencuri, membunuh dan sebaginya. Hal ini terlihat sederhana namun bisa menjadi rumit ketika perilaku yang menjadi akibat
sifatnya ekstrim dan berbau kriminal, maka, sekolah dapat mengantisipasinya dengan cara membiasakan sikap menghargai teman, menjaga ucapan kepercayaan diri, membiasakan kebersamaan dan kepedulian pada teman dengan melakukan bimbingan sikap secara umum dan personal pada seluruh siswa melalui program bimbingan dan konseling sekolah.

5. Pencarian jati diri

Masa remaja diawali dari masa pubertas/baligh berkisar antara usia 9 tahun ke atas. Pada masa tersebut seorang remaja biasanya sedang bingung memandang dirinya, belum tahu harus seperti dan menjadi apa. Oleh sebab itulah mereka mencari – carai figure yang mereka minati dan orang – orang kagumi dengan mencari idola.selain memiliki idola merekapun belum cukup mengerti tentang potensi diri dan bagaimana merancang kesuksesan dengan modal tersebut. Untuk itulah seorang guru disekolah sangat penting memberi bantuan arahan pengenalan dan pengembangan diri remaja.

6. Harapan

Setiap remaja memiliki harapan seperti normalnya manusia.harapan yang berkembang secara sehat adalah harapan yang sesuai dengan keadaan dan kemampuan. Kadangkala remaja memiliki harapan yang berelebihan sehingga ketika menghadapi kegagalan mengalami frustasi.bagi sebagian remaja yang yang terbiasa dengan frustasi akan cenderung menyikapi dengan ketegaran atau sabar tetapi bagi remaja yang selalu dimanja kan merasa frustasi sebagai hal yang luar biasa sulit dan menyiksa.sehingga konsentrasi belajar semakin menurun, motivasi berkurang dan pikiran tersita pada frustasi – frustasi yang dialami . Sebagai remaja, adalah wajar apabila belum memiliki kemampuan untuk selalu bisa memecahkan persoalan. Maka, sekolah dapat memberikan pengetahuan berkehidupan dan cara- cara mengatasi persoalan agar bisa meraih harapan, selain itu perlu pula bimbingan untuk menerima kenyataan sebagai suatu pengalaman yang berharga dan sarana memperbaiki diri berdasar introspeksi.

7. Uang

Sebagai remaja, sebagian masih bergantung pada orang tua dalam hal keuangan. Pola asuh orang tua dalam pengelolaan keuangan anak dapat menjadikan anak bermasalah.orang tua yang terlalu longgar dalam memberi uang meyebabkan anak boros, sombong dan cenderung bersikap semaunya. Adapun yang terlalu ditekan dalam pemenuhan kebutuhan keuangan dapat menyebabkan remaja menjadi frustasi, tertekan, psikosomatis, kurang semangat belajar dan masalah perilaku atau kepribadian apabila siremaja tidak dapat menerima kenyataan atau pola tersebut.  Mengatasi keadaan tersebut, sekolah dapat membantu siswa untuk dapat menyikapi
pola asuh orang tua dalam hal keuangan secara tepat.aturan pembatasan uang saku cukup dapat mebuat siswa terkondisi bersikap sederhana lebih optimal lagi diiringi kesadaran orang tua untuk menumbunhkan sikap hemat dan sederhana. Namun, bagi remaja yang memiliki kekurangan uang harus banyak dibimbing untuk menerapkan sikap syukur dalam menerima keadaan. Bagi remaja yang berpotensi dapat diarahkan untuk gemar mengikuti kompetisi agar dia belajar mandiri dengan memanfaatkan bakatnya .hal ini akan dirasakan siswa saat memperoleh bea siswa , uang pembinaan sebagai penghargaan dan sebagainya. Siswa tidak hanya diajari bagaimana meminta uang namun mengelola dan juga mengupayakannya. Melatih ketrampilan tangan atau boga dapat dijadikan bekal untuk kelak remaja menekuni usaha produksi tertentu dalam rangka belajar mandiri.

8. Egois

Egois merupakan sifat yang khas pada remaja. Perilaku yang muncul bisanya adalah perilaku ingin menang sendiri, kurang peka pada orang lain, dan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Sifat ini merupakan warisan bentuk kekanak-kanakan yang dapat berubah setelah si remaja belajar untuk bersikap lebih dewasa yaitu bertanggung jawab . Sikap egois ini dapat memunculkan masalah dalam pergaulan antar remaja.biasanya ada remaja yang jadi korban.bagi sipelaku keegoisan ini membuatnya dibenci dan dijauhi teman namun bisa jadi sipelaku tidak cukup sadar kalau ia memiliki sifat egois atau ada juga yang merasa bangga memiliki sifat egois. Namun siremaja akan terpukul dan merasa bersedih hati serta kurang motivasi belajar saat dia mendapat masalah dipergaulan. Untuk itu remaja dengan masalah sifat egois ini dapat dibimbing oleh sekolah dan juga orang tua untuk berlatih membangun sikap tanggung jawab, empati dan kepedulian sosial.

9. Aturan

Bagi remaja hidup dalam aturan dapat dirasakan seperti penjara dan bukti ketidak percayaan bahwa siremaja ini masih dianggap anak- anak. Maka untuk membuktikan kemandiriannnya biasanya mereka suka memberontak dan bergaya hidup semaunya. Namun hal ini akan dapat diatasi dengan menumbuhkan kesadaran tentang konsekwensi dari ketidak teraturan dalam kehidupan sehari – hari dan nyata sehingga siswa akan cenderung menentukan sikap sendiri untuk dapat mentaati peraturan. Meski demikian pada beberapa remaja yang sangat menonjol pembangkangannnya terhadap aturan dapat dikenai sanksi mendidik yang disepakati sebagai tata tertib sebagai bingkai pengkondisian perilaku, semata – mata untuk kebaikan remaja tersebut bukan untuk menunjukkan otoritas.

10. pengendalian diri dan emosi

Remaja memiliki ciri khas perkembangan yaitu emosional.hal ini dapat kita lihat melalui ekspresi – ekspresi remaja yang cenderung sangat menyolok.contoh saat mereka riang, murung, histeris dan sebagainya.pada orang yang matang cenderung menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi dan terbingkai dengan nilai kesantunan. Namun remaja justru membiarkan emosi dilepaskan secara bebas.akibat dari pengungkapan emosi yang cenderung tanpa kendali ini sering menimbulkan masalah dalam pergaulan disekolah.
Emosionalitas remaja ini dapat diredam dengan tata tertib sekolah atau kelas namun lebih mendasar lagi dengan penanaman sikap kesantunan pada pikiran dan pembentukan sikap agar pengendalian diri dan emosi ini muncul lebih sebagai pilihan yang sadar bukan paksaan.

11. Kesehatan

Tidak jarang remaja memiliki kebiasaan kurang sehat seperti begadang, main play stasion overtime, diet agar langsing tanpa pertimbangan dokter dan semacamnya.hal seperti ini dapat menurunkan kesehatan fisik dan juga mental remaja, untuk itu perlu ketegasan orang tua dalam kebiasaan dirumah serta bimbingan sekolah agar remaja mengetahui pola hidup sehat yang akan mendukung belajarnya

12. Trend

Remaja mengejar pengakuan dari orang – orang sekirtar dengan cara mengikuti harapan kelompok, dengan mengikuti standar yaitu trend dan cenderung menyamakan diri agar tidak dikucilkan.beberapa trend yang berkembang dapat menjerumuskan remaja dalam penyimpangan moral seprti gaul bebas,gangguan kesehatan seperti merokok dan narkoba , gaya hidup boros seperti model HP terkini sebagai syarat gaul dan sebagainya.dalam hal ini orang tua perlu memberi ketegasan dalam toleransi pemberian fasilitas, sedangkan sekolah dapat memagari dengan tata tertib serta penanaman sikap bahwa menjadi korban trend dapat menjerumuskan pribadi remaja.

13. Teknologi

Bagi remaja menguasai teknologi terkini adalah tantangan apalagi ketika itu menawarkan keasyikan seperti chatting, surfing, download nett atau HP, dan sebagainya.namun agar remaja tidak terjerumus dalam problem akses situs porno, konsumen gambar porno HP, kecanduan Blue film, kecanduan onani maka orang tua perlu secara tegas membatasi dan mengawasi serta berkomunikasi dengan remaja tentang penggunaan alat teknologi tersebut. Sekolah dapat memberi bimbingan yang mengarahkan kepada wawasan dan filter remaja dalam menggunakan teknologi tersebut.

14. Stress

Remaja selama bersekolah dapat mengalami stress akibat kecemasan terhadap ujian, tugas – tugas yang tidak mampu dikerjakan, peraturan yang ketat dan lain sebagainya. Stress dapat muncul dalam gejala yang beragam dimulai dari kehilangan konsentrasi, gagap, pusing, berkeringat dingin, gelisah, mimpi buruk, pingsan dan sebagainya sebagaimana DR.Dadang hawari menjadikan empat kelas gejala stress dalam bukunya yang berjudulal qur’an dan ilmu kesehatan jiwa. Stress tersebut, dapat menggangu proses keberhasilan belajar siswa yang masih remaja.untu mengatasinya maka orang tua dan guru dapat mengajarkan cara mengurangi stress yaitu dengan didasarkan pada penyebab munculnya stress.apabila stress tersebut disebabkan sikap yang belum menerima /rela maka perlu mengubah sikap. Apabila stress tersebut akibat ketidak mampuan maka perlu giat berlatih. Apabila sumbernya adalah kesehatanfisik, maka perlu upaya pengobatan.

15. Bimbingan

Remaja sangat membutuhkan bimbingan agar dia dapat hidup dengan dewasa dan mampu mengatasi masalah.dirumah seringkali orang tua tidak cukup waktu membimbing karena sibuk bekerja.bebrapa yang lain tidak tahu apa yang harus dibimbingkan pada remaja. Maka fungsi sekolah dalam membimbing kedewasaan remaja sangat berperan.tentu ini akan terjadi apabila guru
menjalani profesinya dengan semangat pendidik yakni tidak semata profesi tetapi juga mewujudkan siswa yang benar – benar terdidik tidak hanya secara matematis akademis namun sekaligus moral siswa.apabila remaja tidak mendapat bimbingan dari orang tua dan pendidik, mau jadi seperti apa mereka?…………………………….???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: